PEMBERDAYAAN
GENERASI MILENIAL DENGAN PENANAMAN PARADIGMA GREEN FINNACING MELALUI REKSADANA SEBAGAI
WUJUD DUKUNGAN TERHADAP SDGs POIN 8
Pentingnya Pengelolaan Uang yang Baik
Dalam konteks global saat ini, ekonomi berkelanjutan menjadi perhatian utama, terutama di kalangan generasi milenial yang semakin sadar akan pentingnya pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Generasi milenial menghadapi berbagai keresahan terkait keuangan di tengah banyaknya isu global, yang mencakup ketidakpastian ekonomi akibat resesi dan pandemi, serta tekanan gaya hidup konsumtif yang dipicu oleh media sosial. Mereka sering kali terjebak dalam utang, terutama melalui pinjaman online, karena kurangnya literasi keuangan dan pengelolaan yang baik. Selain itu, banyak milenial yang tidak memiliki dana darurat yang memadai, sehingga mereka terpaksa bergantung pada kredit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini mengakibatkan mereka sulit menabung dan berinvestasi untuk masa depan. Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi generasi milenial untuk meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan keuangan dan merancang strategi yang lebih baik agar dapat mencapai stabilitas finansial jangka panjang.
Pembangunan berkelanjutan menjadi sebuah paradigma baru dalam mengejar pertumbuhan ekonomi. Keseimbangan antara kepentingan untuk memperoleh profit tidak berarti dapat memberikan legitimasi untuk menurunkan perhatian dan komitmen menjaga lingkungan dan kehidupan sosial yang lebih baik. Inisiatif global dari beberapa lembaga keuangan di dunia telah dibentuk untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan banyaknya produk keuangan yang tersedia, tantangan terbesar adalah bagaimana memilih instrumen investasi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa depan demi menyelamatkan #UangKita. Artikel ini akan membahas pentingnya literasi keuangan, perilaku manajemen keuangan, serta dampak investasi berkelanjutan bagi generasi muda. Berkembangnya produk keuangan yang beraneka ragam tentu memiliki pilihan tersendiri, disusul dengan banyaknya kebutuhan masa sekarang maupun mendatang. Hal tersebut menimbulkan suatu tantangan bagaimana menentukan perencanaan keuangan yang tepat serta pemilihan produk keuangan yang baik dan benar.
Literasi Keuangan, Manajemen Keuangan, dan Lokus Pengendali
Literasi keuangan merupakan
langkah awal yang krusial bagi generasi milenial untuk mengatur keuangan
mereka, karena pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang, investasi, dan
perencanaan anggaran akan membantu mereka membuat keputusan finansial yang
cerdas, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempersiapkan masa depan yang
lebih stabil dan sejahtera. Perilaku Manajemen Keuangan merupakan
kemampuan seseorang maupun organisasi dalam mengatur dan menyimpan keuangan
sehari–hari. Perilaku manajemen keuangan penting untuk dikuasai karena apabila
seseorang memiliki perilaku manajemen keuangan yang baik maka mereka akan mampu
untuk menyeimbangkan antara uang yang dimiliki atau diterima dan uang yang
dikeluarkan. Selain literasi keuangan, perilaku manajemen keuangan juga
dipengaruhi oleh aspek psikologis yaitu Locus of control (lokus
pengendali) yang dikenal pada tahun 1966 oleh Rotter. Lokus pengendalian merupakan
cara pandang seseorang apakah dapat atau tidak untuk mengendalikan diri mereka
untuk menentukan nasib pada fenomena yang terjadi pada diri sendiri maupun
terhadap lingkungan. Jika seseorang memiliki pengendalian diri yang baik maka
perilaku manajemen keuangannya juga akan baik karena dengan adanya pengendalian
yang baik pula.
Pembiayaan berkelanjutan (green financing)
Pembiayaan berkelanjutan (green
financing) melibatkan akan mempertimbangkan berbagai aspek seperti: aspek
lingkungan, penilaian dampak lingkungan dari suatu proyek atau investasi. Hal
ini dapat mencakup pengurangan emisi karbon, penggunaan sumber daya yang lebih
efisien, dan kebijakan yang mendukung konservasi alam. Aspek yang kedua, yaitu
aspek sosial, aspek ini berfokus pada dampak sosial dari proyek atau investasi,
termasuk dukungan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan
pemberdayaan masyarakat lokal. Ketiga, aspek ekonomi, penilaian dampak ekonomi
jangka panjang, termasuk kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi lokal
dan kesejahteraan masyarakat. Pembiayaan berkelanjutan dapat mencakup berbagai
instrumen keuangan, seperti obligasi hijau, obligasi sosial, dan pinjaman
berkelanjutan, yang dirancang untuk mendukung proyek-proyek yang memiliki
dampak positif terhadap keberlanjutan. Investasi berkelanjutan itu sendiri
adalah proyek investasi yang berorientasi pada proyek. atau bagian yang
berusaha melindungi lingkungan. Kesepakatan tersebut dapat berupa pengurangan
polusi, pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, perlindungan sumber daya
alam, produksi listrik dari sumber energi alternatif, kegiatan pembersihan dan
pemeliharaan seperti udara, air, pengelolaan limbah atau jenis tindakan
lingkungan lainnya. Pembiayaan hijau mengacu pada investasi dan proyek ramah
lingkungan yang membahas keberlanjutan. Saat ini penggunaan tekhnologi yang
berlebihan telah memberikan tantangan berat bagi perekonomian di seluruh dunia.
Keuangan hijau mengubugkan alam dengan ekonomi, dan secara luas membahas
pembangunan dan keberlanjutan ekologis. Itulah sebabnya sebgaian besar
perusahaan menanamkan saham mereka sebagai obligasi hijau atau sukuk
hijau.Keuangan hijau memiliki persamaan dengan keuangan etis, keuangan etis
mengacu pada invstasi yang didaarkan pada nilai dan prinsip tertentu, ada
hubungan yang mendalam antara keuangan hijau dan keuangan etis; titik-tiknya
sama, misalnya, keduanya mendukung investasi yang bertanggung jawab
Saat ini untuk memenuhi semua
kebutuhan yang semakin bertambah akan sulit jika hanya memanfaatkan pendapatan
perbulan atau gaji saja. Seseorang dapat melakukan kegiatan berinvestasi untuk
menambah nilai kekayaannya (Akiang et al., 2020). Investasi sendiri kegiatan
yang menempatkan modal kepada pihak lain atau lembaga dengan periode tertentu
untuk memperoleh keuntungan maupun peningkatan nilai investasi. Investasi bisa
di lakukan dengan dua jenis sektor yaitu, sektor asset keuangan seperti membeli
saham; deposito pada bank; membeli obligasi/ reksadana, ataupun bisa dilakukan
pada sektor rill seperti kepemilikan properti maupun menabung emas. Penentuan
jenis instrumen tentu saja akan diikuti dengan pengambilan keputusan
berinvestaasi. Pengambilan keputusan ini juga harus didukung dengan pengetahuan
keuangan atau literasi keuaangan agar keputusan yang dihasilkan terarah dan
jelas.
Reksadana Sebagai Pilihan Terbaik Untuk Investasi
Instrumen investasi yang bisa digunakan sangat beragam mulai dari saham, obligasi, reksadana dan lain sebagainya. Reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang cukup mudah bagi pemula. Reksadana sebagai, wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya. Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi”. Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur.
Reksadana memiliki beberapa keunggulan yaitu adanya penawaran diversifikasi otomatis, yang berarti dana tidak hanya ditempatkan pada satu jenis aset. Jika beberapa aset mengalami kerugian, potensi kerugian dapat diimbangi oleh aset lain yang menguntungkan, sehingga mengurangi risiko keseluruhan. Reksadana cenderung memberikan keuntungan yang lebih stabil dibandingkan investasi langsung di saham. Modal awal yang dikeluarkan oleh investor muda ini terbilang cukup terjangkau, karena bisa dimulai dari Rp 10.000, hal ini menjadikan reksadana nejadi pilihan yang aksessible untuk banyak kalangan. Reksadana memiliki likuiditas yang baik, memungkinkan investor untuk mencairkan dana mereka kapan saja tanpa penalti, sehingga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan. Kemampuan mengelola keuangan dengan bijak akan membuat individu dapat mempertahankan hidupnya. Merencanakan keuangan jangka panjang akan menjamin kesejahteraan hidup individu. Dalam hal ini, tidak ada larangan buat menggunakan uang yang didapatkan sesuai keinginan individu tersebut, namun ada baiknya jika uang itu digunakan lebih bijaksana. Kecerdasan Financial yang baik ditandai dengan pemahaman literasi keuangan yang tinggi.
#UangKita untuk Masa Depan Indonesia #Komunita Kemenkeu
REFERENSI:
Cahyani,
Y. T. (2024). Pembiayaan Berparadigma Green Financing Dalam Pengembangan
Ekonomi Berkelanjutan. Niqosiya: Journal of Economics and Business
Research, 4(01), 193-203.
Dewi,
E. K. (2013). Analisis investasi Reksadana sebagai alternatif investasi di masa
depan. INTEKNA Jurnal Informasi Teknik dan Niaga, 13(3).
Faramitha, A.,
Wahyudi, W., & Desmintari, D. (2021). Analisis perilaku manajemen keuangan
pada generasi milenial. Inovasi: Jurnal Ekonomi, Keuangan, dan
Manajemen, 17(1), 19-29.
Hasanah,
N., & Hariyono, S. (2022). Analisis Implementasi Green Financing Dan
Kinerja Keuangan Terhadap Propitabilitas Perbankan Umum Di Indonesia. Jurnal
Ekobis: Ekonomi Bisnis & Manajemen, 12(1), 149-157.
Dewi,
E. K. (2013). Analisis investasi Reksadana sebagai alternatif investasi di masa
depan. INTEKNA Jurnal Informasi Teknik dan Niaga, 13(3).
Purnamasari, E. D. (2023). Pengaruh Literasi
Keuangan Terhadap Keputusan Investasi Pasar Modal (Studi Kasus Mahasiswa di
Kota Palembang). Management and Sustainable Development Journal, 5(1),
34-45.


.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar